ASDP Ketapang 34 kapal dikerahkan untuk mengurai kepadatan arus balik Lebaran 2026 di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Lonjakan kendaraan pada H+8 mendorong operator mempercepat layanan agar arus tetap lancar.
JAKARTA, (Nalarpubliknews.com) || PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang mengoperasikan 34 kapal untuk merespons lonjakan arus balik. Manajemen langsung mengatur pola operasi agar layanan lebih cepat dan efisien.
Sebanyak 22 kapal menjalankan pola tiba bongkar berangkat (TBB). Pola ini membuat kapal segera meninggalkan dermaga setelah proses bongkar. Dengan begitu, kendaraan cepat terlayani dan terus bergerak.
Selain itu, ASDP menambah empat kapal bantuan. Langkah ini mempercepat rotasi dan menjaga ritme layanan tetap stabil.
Petugas Percepat Bongkar Muat
ASDP menargetkan waktu bongkar muat sekitar 35 menit per siklus. Petugas mengatur kendaraan secara terarah agar proses berjalan cepat.
Selanjutnya, kru kapal langsung menyiapkan keberangkatan tanpa menunda waktu. Langkah ini membuat kapal kembali beroperasi lebih cepat.
Akibatnya, kapasitas layanan meningkat dan antrean bisa ditekan.
Antrean Tetap Bergerak
Petugas mencatat antrean kendaraan mencapai sekitar 5,8 kilometer dari pintu masuk pelabuhan. Namun, arus kendaraan tetap berjalan.
Petugas lapangan terus mengarahkan kendaraan agar tidak menumpuk. Selain itu, sistem pengaturan lalu lintas menjaga pergerakan tetap stabil.
Kendaraan yang mengantre terdiri dari mobil pribadi, truk, dan bus. Meskipun antrean panjang, arus tidak berhenti.
Penumpang dan Kendaraan Meningkat
Data Posko Lebaran mencatat 56.365 penumpang menyeberang pada H+7. Angka ini naik 12,9 persen dibandingkan tahun lalu.
Jumlah sepeda motor mencapai 12.458 unit dan meningkat 57 persen. Sementara itu, kendaraan roda empat mencapai 4.995 unit.
Di sisi lain, jumlah truk turun menjadi 1.192 unit. Bus penumpang juga turun menjadi 412 unit.
ASDP Jaga Arus Tetap Lancar
ASDP memprioritaskan kelancaran arus kendaraan selama arus balik. Petugas memastikan kendaraan terus bergerak di setiap titik layanan.
Selain itu, manajemen menjaga ritme operasional agar tetap konsisten. Dengan langkah ini, waktu tunggu bisa ditekan.
Pada akhirnya, strategi percepatan layanan membuat arus balik tetap terkendali meski volume kendaraan meningkat.
Saat ini belum ada komentar