Menjadi Konsumen Kosmetik Cerdas di Era TikTok Shop: Kenali Kandungan Aktif dan Risiko Skincare Viral bagi Remaja
- account_circle Rahman
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Kelompok 18 PKPA Universitas Halu Oleo (UHO) bersama siswa peserta kegiatan usai penyuluhan bertema Konsumen Kosmetik Cerdas, yang mengedukasi remaja tentang kandungan aktif, risiko skincare viral, dan pentingnya memeriksa izin edar BPOM sebelum membeli produk kosmetik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KENDARI, nalarpubliknews.com – Fenomena produk perawatan kulit atau skincare yang viral di media sosial, khususnya TikTok Shop, kini menjadi tren besar di kalangan remaja. Kemudahan akses, harga yang beragam, serta promosi yang menarik membuat banyak remaja tertarik untuk mencoba berbagai produk kosmetik tanpa benar-benar memahami kandungan, keamanan, maupun risiko penggunaannya. Hal ini menjadi perhatian penting dalam kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh Kelompok 18 Angkatan XV Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Universitas Halu Oleo (UHO), dengan tema “Menjadi Konsumen Kosmetik yang Cerdas di Era TikTok Shop: Mengenal Kandungan Aktif dan Resiko Skincare Viral pada Remaja”.
Di era digital saat ini, TikTok Shop telah mengubah cara masyarakat berbelanja, termasuk produk kecantikan. Produk yang sering muncul di halaman beranda, didukung testimoni pengguna, dan penawaran diskon besar, sering kali membuat remaja tergoda untuk membeli tanpa mengecek keamanan dan izin edar produk tersebut. Padahal, tidak semua produk yang beredar di pasaran memiliki izin resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan banyak di antaranya mengandung bahan aktif yang tidak sesuai atau berisiko bagi kulit remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.
Kelompok 18 PKPA UHO menjelaskan bahwa remaja memiliki karakteristik kulit yang berbeda dengan orang dewasa. Kulit remaja cenderung lebih sensitif, memiliki kadar minyak yang berubah-ubah, dan masih beradaptasi dengan perubahan hormon. Penggunaan produk sembarangan, apalagi yang mengandung bahan keras seperti merkuri, hidrokuinon, atau kadar asam yang terlalu tinggi, dapat menimbulkan masalah serius: mulai dari iritasi, kemerahan, kulit menipis, hingga kerusakan jaringan kulit jangka panjang yang sulit diperbaiki.
“Banyak remaja membeli produk hanya karena viral atau direkomendasikan konten kreator, tanpa membaca komposisi atau memastikan keamanannya. Padahal, apa yang cocok untuk satu orang belum tentu aman untuk kulit remaja, dan bahan aktif yang terlalu kuat justru bisa merusak penghalang alami kulit mereka,” ungkap salah satu anggota tim PKPA UHO.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja agar menjadi konsumen yang cerdas, kritis, dan berhati-hati dalam memilih produk kosmetik. Materi yang disampaikan meliputi cara mengenali kandungan aktif pada kemasan produk, cara mengecek nomor izin edar BPOM, memahami fungsi dan risiko setiap bahan, serta cara memilih produk yang sesuai dengan jenis dan kondisi kulit remaja.
Selain itu, tim juga mengingatkan pentingnya membedakan antara rekomendasi yang berbasis pengetahuan dan promosi komersial. Konsumen diimbau untuk tidak mudah tergiur janji hasil instan atau harga yang terlalu murah, karena sering kali hal tersebut menjadi tanda produk tidak memenuhi standar keamanan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan remaja tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga sadar bahwa kecantikan yang sehat dimulai dari pemilihan produk yang aman dan tepat. Menjadi konsumen cerdas berarti tidak hanya membeli, tetapi juga memahami apa yang digunakan pada kulit, demi kesehatan dan keindahan kulit yang berkelanjutan.
Kelompok 18 PKPA UHO berharap pesan ini dapat tersebar luas, mengingat penggunaan media sosial dan belanja daring terus meningkat. Keamanan dan kesehatan kulit generasi muda adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari pengetahuan dan kehati-hatian saat memilih produk kosmetik.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar