Opini: Eksistensi HMI di Usia 79 Tahun: Moderasi yang Diuji Zaman
- account_circle Rahman
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- visibility 389
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh Arin Fahrul Sanjaya
Usia 79 tahun tidak hanya menandai panjangnya perjalanan sebuah organisasi mahasiswa, tetapi juga menunjukkan sejauh mana nilai-nilai perjuangan tetap relevan dalam realitas zaman. Oleh karena itu, momentum ini tidak boleh berlalu tanpa refleksi yang mendalam.
Bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), momentum ini harus menjadi ruang refleksi kolektif. Pertanyaannya, apakah moderasi masih hadir sebagai sikap nyata, atau justru hanya tersisa sebagai slogan seremonial?
Moderasi sebagai Fondasi Gerakan
Sejak awal berdiri, HMI menjadikan moderasi sebagai fondasi perjuangan. Namun demikian, moderasi bukan sikap netral tanpa arah, dan bukan pula kompromi terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, moderasi menuntut keberanian untuk bersikap adil, rasional, dan proporsional.
Dalam konteks ini, Indonesia yang majemuk membutuhkan moderasi untuk menjaga keutuhan bangsa sekaligus membangun etika dalam kehidupan bernegara.
Saat ini, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Polarisasi politik pasca pemilu, menguatnya politik identitas, serta maraknya ujaran kebencian di ruang digital membentuk iklim sosial yang emosional.
Selain itu, mahasiswa, termasuk kader HMI, ikut terpapar situasi ini. Banyak mahasiswa membentuk opini secara instan melalui media sosial tanpa proses berpikir kritis. Akibatnya, ruang dialog yang sehat semakin menyempit.
Ujian Nyata bagi Kader HMI
Kondisi ini menguji posisi HMI. Di satu sisi, kader HMI memiliki potensi sebagai penyeimbang. Namun di sisi lain, mereka juga berisiko terseret dalam arus polarisasi.
Karena itu, HMI perlu menegaskan perannya sebagai kekuatan intelektual yang mencerahkan, bukan sekadar mengikuti dinamika politik praktis. Jika tidak, HMI bisa kehilangan arah gerakan.
Eksistensi HMI tidak ditentukan oleh jumlah kader atau banyaknya kegiatan. Sebaliknya, HMI membuktikan eksistensinya melalui konsistensi dalam menjaga nilai.
Saat demokrasi kehilangan substansi—ditandai lemahnya etika kekuasaan, rendahnya partisipasi bermakna, dan tingginya konflik kepentingan—HMI harus tampil sebagai kekuatan moral yang kritis sekaligus konstruktif. Dengan demikian, HMI tetap relevan di tengah tekanan pragmatisme.
Tanggung Jawab Ekologis dan Sosial
Mahasiswa juga menghadapi tantangan sosial-ekologis yang serius. Krisis lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, konflik agraria, dan perubahan iklim semakin nyata.
Sayangnya, banyak aktor politik mengabaikan isu ini. Oleh sebab itu, HMI perlu menunjukkan keberpihakan pada keadilan ekologis dan keberlanjutan, bukan hanya membahasnya sebagai wacana.
Moderasi tidak berarti menjauh dari persoalan. Sebaliknya, moderasi menuntut cara yang etis dan solutif dalam menyampaikan kritik.
Lebih jauh, HMI harus mengembangkan gerakan berbasis riset, advokasi kebijakan, dan pendidikan publik. Tanpa langkah ini, moderasi berisiko menjadi simbol tanpa makna.
Pentingnya Regenerasi Kader
Regenerasi menjadi kunci keberlanjutan nilai. Untuk itu, HMI tidak cukup mengajarkan moderasi melalui forum formal saja.
HMI perlu membangun budaya kaderisasi yang mendorong dialog, menghargai perbedaan, dan melatih kemandirian berpikir. Dengan cara ini, nilai moderasi dapat hidup dalam praktik.
Usia 79 tahun seharusnya mendorong HMI untuk terus berbenah. Artinya, HMI tidak boleh bergantung pada prestasi masa lalu.
Sebaliknya, HMI harus menjadi organisasi yang adaptif, kritis, dan responsif terhadap realitas sosial. Moderasi harus diwujudkan dalam keberpihakan nyata.
Penutup: Moderasi sebagai Sikap Hidup
Eksistensi HMI hari ini ditentukan oleh kemampuannya menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan prinsip.
Pada akhirnya, moderasi bukan warisan yang bertahan dengan sendirinya. HMI harus terus merawat dan memperjuangkannya. Jika demikian, HMI akan tetap relevan, bermakna, dan dibutuhkan oleh umat serta bangsa.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
