Jakarta, nalarpubliknews.com || Rupiah melemah pada penutupan perdagangan Kamis, turun 106 poin atau 0,62 persen ke level Rp17.287 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini mencerminkan tekanan kuat dari faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik global yang terus meningkat.
Penyebab Utama Rupiah Melemah
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memperburuk kondisi pasar, terutama karena gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent tercatat mencapai sekitar 102,25 dolar AS per barel, sementara WTI berada di kisaran 93,47 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada negara berkembang seperti Indonesia karena meningkatkan biaya impor energi dan menekan nilai tukar.
Dampak Geopolitik terhadap Rupiah
Rupiah melemah juga dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat kegagalan negosiasi damai antara kedua negara. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menilai bahwa tekanan dari AS menghambat proses diplomasi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor global.
Akibatnya, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS. Perpindahan modal ini membuat permintaan terhadap dolar meningkat, sehingga rupiah semakin tertekan.
Tekanan dari Dalam Negeri
Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga memperburuk situasi. Investor melakukan aksi jual obligasi pemerintah, yang mendorong kenaikan imbal hasil di berbagai tenor. Imbal hasil obligasi 10 tahun bahkan naik menjadi 6,73 persen.
Bank Indonesia mencatat bahwa kurs referensi JISDOR ikut melemah ke Rp17.308 per dolar AS. Hal ini menunjukkan tekanan yang cukup kuat terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Implikasi Ekonomi
Jika rupiah melemah terus berlanjut, maka dampaknya bisa dirasakan pada berbagai sektor. Harga barang impor berpotensi naik, inflasi dapat meningkat, dan daya beli masyarakat bisa tertekan. Selain itu, sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor juga akan menghadapi kenaikan biaya produksi.
Secara keseluruhan, rupiah melemah akibat kombinasi faktor global dan domestik. Kenaikan harga minyak dunia, konflik geopolitik, serta tekanan di pasar obligasi menjadi penyebab utama. Oleh karena itu, stabilitas ekonomi memerlukan respons kebijakan yang tepat agar tekanan terhadap rupiah dapat dikendalikan.
https://shorturl.fm/l2qxl
25 April 2026 7:17 am