Opini: Ketika Adab Hilang, Ilmu Kehilangan Arah—Sekolah di Ambang Krisis Karakter
- account_circle Brian putra
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- visibility 93
- comment 1 komentar
- print Cetak

foto: grafik_ rahman saat menyampaikan pendapat ruang publik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Rahman
Jakarta, nalarpubliknews.com – Fenomena siswa membentak guru semakin sering terjadi dan tidak bisa lagi dianggap pelanggaran biasa. Peristiwa ini menunjukkan melemahnya adab dalam dunia pendidikan serta mengindikasikan krisis karakter yang kian nyata.
Pergeseran Nilai dalam Lingkungan Sekolah
Fenomena siswa membentak guru memperlihatkan perubahan sikap di lingkungan pendidikan. Banyak siswa kini berani meninggikan suara, menantang, bahkan mengabaikan etika saat berhadapan dengan guru. Kondisi ini tidak sekadar mencerminkan masalah disiplin, tetapi juga menunjukkan runtuhnya fondasi karakter.
Peran Guru dalam Pembentukan Karakter
Pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu. Guru berperan sebagai pembimbing, teladan, dan penjaga nilai moral. Oleh sebab itu, siswa harus menghormati guru dalam setiap interaksi. Sikap sopan, kemampuan mendengarkan, serta etika berbicara menjadi bagian penting dalam proses belajar.
Menurunnya Etika dan Kebiasaan Dasar
Sebagian siswa mulai memandang guru hanya sebagai pengajar formal. Pandangan ini mendorong munculnya perilaku tidak santun, seperti berbicara dengan nada tinggi atau bersikap konfrontatif. Selain itu, kebiasaan sederhana seperti menyapa guru, memberi salam, dan menggunakan panggilan sopan mulai ditinggalkan. Padahal, kebiasaan tersebut berperan penting dalam membentuk karakter.
Kritis Tanpa Kehilangan Adab
Mahasiswa dan siswa memang perlu berpikir kritis. Namun, mereka harus menyampaikan kritik secara santun dan bertanggung jawab. Perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi sikap arogan. Adab tetap menjadi batas yang menjaga kualitas intelektual.
Risiko Jangka Panjang Dunia Pendidikan
Jika kondisi ini terus berlanjut, sekolah akan kehilangan fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter. Lembaga pendidikan hanya akan menghasilkan individu yang unggul secara akademik, tetapi lemah dalam nilai dan sikap. Situasi ini dapat berdampak serius terhadap kualitas generasi masa depan.
Penguatan Pendidikan Karakter sebagai Solusi
Sekolah dan keluarga perlu memperkuat pendidikan karakter secara konsisten. Guru harus memberi teladan, sementara orang tua perlu menanamkan nilai hormat sejak dini. Pendekatan ini harus berjalan berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan sanksi.
Menurunnya adab dalam dunia pendidikan menuntut perhatian serius. Siswa perlu memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian utama dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, proses pendidikan kehilangan arah dan makna.
- Penulis: Brian putra
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: tim redaksi kabaristana.com

https://shorturl.fm/UdsGw
3 Mei 2026 8:02 pm