Kantor Aquila Nickel Group Disegel Mahasiswa, Bongkar Dugaan Skandal “Nikel Kotor” dan Penggelapan Dana PPM PT. BKM
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
- visibility 155
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, 15 Januari 2026 – Mahasiswa yang tergabung dalam IMPH menyegel kantor Aquila Nickel Group di Jakarta, Kamis (15/1).
Aksi segel Aquila Nickel ini muncul sebagai bentuk protes atas dugaan praktik nikel kotor. Selain itu, mahasiswa juga menyoroti dugaan pelanggaran hukum tambang di Sulawesi Tenggara.
Mahasiswa datang sambil membawa spanduk dan poster. Mereka menyuarakan tuntutan secara terbuka. Bahkan, mereka meminta perusahaan segera memberi penjelasan.
Dugaan Pelanggaran Tambang
Mahasiswa menilai PT Bumi Konawe Minerina melanggar aturan kawasan hutan.
Pertama, mereka menemukan indikasi pembukaan lahan tanpa izin resmi. Kemudian, aktivitas itu berpotensi merusak lingkungan. Selain itu, kondisi tersebut juga mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.
Di sisi lain, mahasiswa menilai perusahaan tidak transparan. Informasi terkait operasional tambang sulit diakses publik. Oleh karena itu, mereka menuntut keterbukaan data.
Aksi segel Aquila Nickel juga menyoroti perbedaan antara klaim ESG dan praktik di lapangan. Padahal, perusahaan terafiliasi dengan Solway Investment Group.
Kritik Mahasiswa
Koordinator aksi, Rendy Salim, menyampaikan kritik secara tegas.
“Kami melakukan segel Aquila Nickel sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik nikel kotor,” ujar Rendy.
Ia menilai perusahaan tidak menjalankan tanggung jawab lingkungan dengan baik. Bahkan, ia menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan keadilan.
Sorotan Program PPM
Selanjutnya, mahasiswa mengkritik Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Mereka menilai perusahaan tidak membuka data secara jelas.
Misalnya, rencana program dan realisasi anggaran tidak tersedia untuk publik. Akibatnya, muncul dugaan penyimpangan dana. Oleh sebab itu, mahasiswa meminta audit menyeluruh.
Dengan demikian, masyarakat bisa mengetahui manfaat program tersebut secara nyata.
Dampak bagi Warga
Sementara itu, Robby Anggara menyampaikan kondisi warga di Konawe Utara.
Menurutnya, masyarakat terus menghadapi dampak lingkungan. Mereka mengalami debu, banjir, dan kerusakan hutan. Namun demikian, manfaat ekonomi belum terasa.
“Warga menghadapi dampak, tetapi kesejahteraan tidak meningkat,” kata Robby.
Karena itu, ia meminta pemerintah segera turun tangan.
Ancaman Aksi Lanjutan
Terakhir, mahasiswa memberi batas waktu 3×24 jam kepada perusahaan. Mereka menuntut klarifikasi dan tindakan konkret.
Jika perusahaan tidak merespons, maka aksi segel Aquila Nickel akan meluas. Bahkan, mahasiswa berencana membawa isu ini ke tingkat internasional.
Hingga aksi berakhir, pihak perusahaan belum memberikan tanggapan. Sementara itu, aparat tetap berjaga di lokasi.
