Perjanjian New START Berakhir, Rusia Klaim Bebas Tambah Hulu Ledak Nuklir
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- visibility 150
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Nalarpubliknews.com) || Pemerintah Rusia resmi menyatakan tidak lagi membatasi jumlah hulu ledak nuklir. Keputusan ini muncul setelah New START Treaty berakhir pada 5 Februari 2026.
Berakhirnya perjanjian itu menghapus kewajiban hukum antara Rusia dan Amerika Serikat. Kini, kedua negara bebas menentukan jumlah senjata nuklir strategis masing-masing.
Moskow Tegaskan Sikap Resmi
Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan semua kewajiban dalam New START telah gugur. Pemerintah menyebut tidak ada lagi aturan yang mengikat kedua pihak.
Meski begitu, Rusia mengaku tetap akan bertindak hati-hati. Namun, Kremlin siap merespons tegas jika ada ancaman terhadap keamanan nasional.
Presiden Vladimir Putin sebelumnya menawarkan pembatasan sukarela selama satu tahun. Ia menyampaikan usulan itu pada September 2025.
Namun, pemerintah Amerika Serikat tidak memberikan respons resmi. Presiden Donald Trump hanya menyebut ide tersebut menarik tanpa tindak lanjut.
AS Soroti Peran China
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pentingnya perjanjian baru. Ia menyebut pengendalian senjata harus melibatkan China.
Menurutnya, kekuatan nuklir China terus berkembang. Karena itu, kesepakatan global tidak akan efektif tanpa partisipasi Beijing.
Perjanjian ini lahir pada 2010. Dmitry Medvedev dan Barack Obama menandatangani kesepakatan tersebut.
New START membatasi maksimal 1.550 hulu ledak nuklir strategis per negara. Pada 2021, Joe Biden memperpanjangnya selama lima tahun.
Situasi berubah setelah konflik Ukraina. Rusia kemudian membekukan partisipasi pada 2023.
Ancaman Perlombaan Senjata Nuklir
International Campaign to Abolish Nuclear Weapons memperingatkan risiko besar. Tanpa perjanjian, negara nuklir bisa meningkatkan persenjataan mereka.
ICAN juga menilai kondisi ini dapat memicu perlombaan senjata global. Negara lain berpotensi mengikuti langkah serupa.
Selain itu, Paus Leo XIV meminta kedua negara segera mencari solusi baru. Ia menekankan pentingnya mekanisme pengganti yang nyata.
Berakhirnya New START membuka fase baru ketegangan global. Dunia kini menghadapi risiko eskalasi nuklir yang lebih besar.
Tanpa aturan yang jelas, stabilitas keamanan internasional menjadi semakin rapuh.
