Mayday! Serangan Rahasia UEA ke Iran Picu Ketegangan Timur Tengah
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Latihan militer Iran dengan menembakkan rudal jarak pendek di Teluk Oman.. (Iranian Revolutionary Guard/Sepahnews via AP)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, nalarpubliknews.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah muncul laporan dugaan operasi militer rahasia Uni Emirat Arab (UEA) terhadap Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan munculnya konflik baru di kawasan Teluk.
Menurut laporan media internasional, UEA menyerang sejumlah target di Iran sebagai aksi balasan. Salah satu target dalam laporan itu ialah Pulau Lavan. Selain itu, UEA melancarkan serangan tersebut menjelang pengumuman gencatan senjata pada 7 April lalu.
Namun, hingga kini pemerintah UEA dan Iran belum memberi pernyataan resmi terkait kabar tersebut.
Kuwait Tingkatkan Kewaspadaan
Di sisi lain, Kuwait menangkap empat orang yang diduga terkait Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Mereka diduga hendak melakukan aksi di Pulau Bubiyan.
Karena itu, negara-negara Teluk mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan balasan. Selain memperketat keamanan, beberapa negara juga memperkuat koordinasi regional.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi rapuh. Menurut Trump, Iran belum menunjukkan kesepakatan terkait program nuklirnya.
Oleh sebab itu, Trump memperingatkan situasi dapat berubah sewaktu-waktu jika negosiasi gagal mencapai titik temu.
Biaya Konflik Terus Naik
Selain ketegangan politik, biaya konflik juga terus meningkat. Pentagon mencatat biaya konflik terkait Iran kini mencapai hampir US$29 miliar atau sekitar Rp507 triliun.
Bahkan, Pentagon juga mencatat kenaikan sekitar US$4 miliar dibandingkan perkiraan dua pekan sebelumnya. Kenaikan itu muncul karena meningkatnya operasi militer dan pengamanan kawasan.
Negara Teluk Minta Penahanan Diri
Di tengah situasi tersebut, mantan diplomat Arab Saudi, Turki al-Faisal, meminta negara-negara Teluk menahan diri. Ia menilai perang besar dengan Iran dapat menghancurkan kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, fasilitas minyak, proyek ekonomi, dan infrastruktur penting berisiko menjadi sasaran serangan jika perang pecah.
Sementara itu, Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Qatar mulai memperkuat komunikasi regional. Mereka ingin menjaga stabilitas sekaligus menghindari konflik langsung dengan Iran.
Jika ketegangan terus meningkat, pengamat menilai kondisi ini dapat memengaruhi keamanan global dan harga energi dunia.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda

Saat ini belum ada komentar