China Minta Bank Lokal Kurangi Obligasi AS, Yield Tembus 4,25%
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
- visibility 177
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi penurunan harga obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) setelah regulator China meminta bank domestik mengurangi kepemilikan, yang mendorong kenaikan yield dan tekanan pada pasar keuangan global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Nalarpubliknews.com) || China batasi obligasi AS dan memicu pergerakan signifikan di pasar keuangan global. Regulator di Beijing meminta lembaga keuangan domestik mengurangi eksposur terhadap US Treasuries. Kebijakan ini segera mendorong kenaikan yield dan mengubah arah sentimen investor.
Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke level 4,25%. Yield tenor 30 tahun juga meningkat menjadi 4,87%. Kenaikan ini menunjukkan tekanan jual yang muncul setelah kebijakan tersebut beredar di pasar. Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index justru melemah sekitar 0,2%.
Regulator China tidak menetapkan target kuantitatif. Mereka juga tidak memberikan tenggat waktu implementasi. Namun, otoritas secara jelas mendorong bank untuk menahan pembelian baru. Mereka juga meminta lembaga keuangan mengurangi kepemilikan yang dinilai terlalu besar. Kebijakan ini tidak berlaku untuk cadangan devisa resmi pemerintah.
Alasan China Batasi Obligasi AS
Langkah China batasi obligasi AS bertujuan mengurangi risiko konsentrasi. Ketidakpastian geopolitik global masih tinggi. Selain itu, volatilitas pasar keuangan juga meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat China memilih strategi diversifikasi aset.
China ingin menjaga stabilitas portofolio. Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Namun, langkah ini tidak berarti China akan keluar sepenuhnya dari pasar obligasi Amerika. Strategi ini lebih bersifat penyesuaian bertahap.
Data Departemen Keuangan AS menunjukkan tren penurunan kepemilikan China. Nilainya kini sekitar US$682,6 miliar. Angka ini menjadi level terendah sejak 2008. Pada 2013, kepemilikan China sempat mencapai US$1,32 triliun.
Penurunan ini terjadi secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. China mulai mengalihkan investasi ke instrumen lain. Meski demikian, total eksposur terhadap aset keuangan AS tetap relatif stabil. China masih berinvestasi melalui saham dan obligasi lembaga lainnya.
Saat ini, China berada di posisi ketiga sebagai pemegang obligasi AS terbesar. Jepang dan Inggris masih menempati posisi pertama dan kedua.
Dampak ke Pasar Global
Sejumlah analis menilai dampak kebijakan ini tidak akan terlalu besar. Banyak obligasi dipegang oleh institusi resmi China dengan tenor pendek. Instrumen tersebut lebih berfungsi menjaga likuiditas daripada investasi jangka panjang.
Selain itu, permintaan dari negara lain tetap kuat. Norwegia, Kanada, dan Arab Saudi terus meningkatkan kepemilikan obligasi AS. Kondisi ini membantu menyeimbangkan pasar.
Dalam 12 bulan terakhir, obligasi pemerintah AS mencatat imbal hasil sekitar 5,3%. Kinerja ini tergolong menarik dibandingkan obligasi negara maju lainnya. Faktor ini membuat investor global tetap melirik US Treasuries.
Pelaku pasar menilai langkah China batasi obligasi AS bukan sinyal de-dolarisasi agresif. Kebijakan ini lebih mencerminkan strategi diversifikasi portofolio. China tetap membutuhkan aset dolar untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Meski begitu, pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan ini. Setiap perubahan dari China dapat memengaruhi yield dan arus modal global. Investor juga akan mencermati respons negara lain terhadap dinamika ini.
Prospek ke Depan
Ke depan, arah yield obligasi AS akan sangat bergantung pada kebijakan global. Faktor suku bunga, inflasi, dan geopolitik akan memainkan peran penting. Jika permintaan tetap kuat, kenaikan yield bisa terbatas.
Namun, jika tekanan jual meningkat, pasar obligasi dapat mengalami volatilitas lebih tinggi. Dalam situasi ini, langkah China akan tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar global.

Saat ini belum ada komentar