Jakarta, (Nalarpubliknews.com) || Pemerintah Korea Utara mengecam rencana Jepang yang akan mengerahkan rudal jarak jauh karena berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan Asia Timur.
Melalui kantor berita resmi KCNA, Pyongyang menilai kebijakan militer terbaru Jepang dapat memicu instabilitas regional dan menimbulkan kekhawatiran di negara-negara tetangga.
Korea Utara menyoroti langkah Jepang yang memperkuat kemampuan militer dengan mengerahkan sistem rudal jarak jauh di sejumlah wilayah strategis.
Jepang Perkuat Sistem Rudal Type-12
Pemerintah Jepang mulai mengerahkan rudal anti-kapal Type-12 yang telah dimodifikasi dengan jangkauan lebih jauh. Jepang menempatkan sistem tersebut di Prefektur Kumamoto sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional.
Selain Kumamoto, Jepang berencana memperluas pengerahan ke wilayah lain seperti Shizuoka, Hokkaido, dan Miyazaki mulai tahun depan.
Tokyo menyebut langkah ini sebagai upaya meningkatkan daya tangkal terhadap berbagai ancaman militer di kawasan.
Korut Soroti Jangkauan dan Kemampuan Rudal
Korea Utara menilai peningkatan jangkauan rudal Type-12 memungkinkan sistem tersebut menjangkau wilayah negara tetangga.
Menurut laporan KCNA, rudal ini tidak hanya mampu menyerang target laut, tetapi juga berbagai fasilitas strategis di daratan.
Rudal Type-12 juga memiliki kemampuan peluncuran dari berbagai platform, termasuk darat, laut, dan udara. Fleksibilitas ini memungkinkan Jepang menyerang kapal perang, pelabuhan, pangkalan militer, hingga lapangan udara.
Pyongyang memperingatkan bahwa langkah Jepang dapat memicu ketegangan baru di kawasan. Korea Utara menilai kebijakan ini menunjukkan percepatan modernisasi militer Jepang yang semakin agresif.
Menurut mereka, kebijakan pertahanan Jepang berpotensi melampaui “garis merah” dan menimbulkan konsekuensi serius bagi stabilitas regional.
Dinamika Keamanan Asia Timur
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara di Asia Timur terus meningkatkan kemampuan pertahanan mereka. Jepang menjadi salah satu negara yang aktif melakukan modernisasi militer.
Pemerintah Jepang menegaskan bahwa penguatan sistem pertahanan bertujuan menjaga keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Namun, langkah tersebut memicu respons keras dari Korea Utara dan menimbulkan kekhawatiran di kawasan.
Sejumlah analis menilai stabilitas Asia Timur sangat bergantung pada keseimbangan antara kekuatan militer dan diplomasi. Mereka mendorong negara-negara di kawasan untuk memperkuat dialog dan kerja sama keamanan guna mencegah eskalasi konflik.


Saat ini belum ada komentar