Pembiayaan BRIS Tumbuh 14,49% pada 2025, Didorong Kuat Bisnis Emas
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 151
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi_npn
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Nalarpubliknews.com) || 6 Februari 2026 pembiayaan emas BSI menjadi salah satu pendorong utama kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sepanjang 2025. Perseroan mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,49% secara tahunan (yoy) hingga mencapai Rp318,84 triliun.
BSI menyalurkan pembiayaan segmen konsumen sebesar Rp175,79 triliun atau 55,13% dari total pembiayaan. Angka ini mencerminkan kuatnya permintaan pembiayaan ritel, terutama untuk produk berbasis emas yang semakin diminati masyarakat sebagai instrumen lindung nilai.
Bisnis Emas Jadi Motor Pertumbuhan
Segmen pembiayaan berbasis emas mencatat pertumbuhan paling tinggi sepanjang 2025. Nilainya mencapai Rp22,91 triliun atau meningkat 78,6% secara tahunan.
Pertumbuhan ini didorong oleh:
- Cicilan emas yang meningkat 101,23%
- Gadai emas yang naik 56,05%
Selain itu, BSI mencatat peningkatan jumlah nasabah menjadi 680,51 ribu atau tumbuh 39,62%. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap investasi emas sebagai aset yang relatif stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Digitalisasi Percepat Layanan Emas
BSI terus memperkuat layanan digital untuk mendorong penetrasi pasar. Melalui BYOND by BSI, perseroan menghadirkan akses pembiayaan emas yang lebih mudah dan cepat.
Jumlah pengguna layanan emas digital mencapai 531,33 ribu nasabah setelah melonjak signifikan. Digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan nasabah, tetapi juga membantu BSI menekan biaya operasional dan memperluas jangkauan layanan.
Selain itu, lini emas menyumbang Rp270 miliar atau 3,91% terhadap total fee based income, sehingga memperkuat struktur pendapatan non-margin.
Segmen Lain Tumbuh Stabil
BSI tetap menjaga pertumbuhan di berbagai lini bisnis. Pembiayaan wholesale meningkat 17,59% menjadi Rp90,8 triliun, sementara pembiayaan UMKM tumbuh 5,83% menjadi Rp52,26 triliun.
Keseimbangan ini menunjukkan bahwa BSI tidak hanya bergantung pada satu segmen, tetapi mengelola portofolio secara terdiversifikasi untuk menjaga stabilitas kinerja jangka panjang.
Kinerja Keuangan dan Prospek 2026
Kinerja pembiayaan berbasis emas ikut mendorong pendapatan bersih naik 9,92% menjadi Rp19,04 triliun. BSI juga membukukan laba bersih sebesar Rp7,57 triliun atau tumbuh 8,02%.
Dari sisi pendanaan, BSI menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp380,49 triliun atau meningkat 16,20%. Rasio CASA mencapai 61,62% dan mencerminkan efisiensi struktur dana.
Untuk 2026, BSI menargetkan pertumbuhan pembiayaan di kisaran 14–16%. Perseroan juga menjaga kualitas pembiayaan dengan mempertahankan cost of credit di bawah 1%. Dengan tren investasi emas yang terus meningkat, segmen ini berpotensi tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan BSI ke depan.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
