JAKARTA, (Nalarpubliknews.com) || Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan rencananya untuk menerapkan tarif baru pada barang impor. Ia menyampaikan pernyataan tersebut melalui media sosial pada Minggu (15/3/2026).
Trump menilai pemerintah tetap memiliki kewenangan untuk menetapkan tarif melalui jalur hukum lain. Ia juga mengkritik putusan pengadilan karena dianggap merugikan kepentingan ekonomi Amerika Serikat.
Menurut Trump, pemerintah perlu melindungi industri dalam negeri dari tekanan impor. Ia menegaskan bahwa tarif menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan perdagangan dan memperkuat daya saing produk domestik.
Putusan Mahkamah Agung Jadi Titik Balik
Pada Februari lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa pemerintah tidak dapat menggunakan Undang-Undang Darurat Nasional 1977 sebagai dasar kebijakan tarif global.
Pengadilan menilai aturan tersebut hanya berlaku untuk kondisi darurat tertentu, seperti krisis keamanan. Karena itu, penggunaan aturan tersebut untuk kebijakan perdagangan dinilai tidak sesuai dengan tujuan awalnya.
Putusan ini memaksa pemerintah AS mengubah strategi dalam menerapkan tarif terhadap negara mitra dagang.
Pemerintah AS Ubah Strategi Tarif
Pemerintah AS kemudian menerapkan tarif sementara sebesar 10 persen pada sebagian besar barang impor. Mereka menggunakan dasar hukum Pasal 122 dari Trade Act of 1974.
Namun, kebijakan ini hanya berlaku maksimal 150 hari dan akan berakhir pada Juli mendatang.
Trump juga mengusulkan kenaikan tarif hingga 15 persen untuk beberapa produk impor. Hingga kini, pemerintah masih mengkaji opsi tersebut sebelum mengambil keputusan.
Selain itu, pejabat perdagangan AS memulai investigasi terhadap praktik perdagangan sejumlah negara. Hasil investigasi ini dapat menjadi dasar penerapan tarif permanen.
Agenda Diplomasi Ekonomi Internasional
Pemerintah AS menjadwalkan pertemuan dengan Meksiko dan Kanada untuk membahas masa depan perjanjian United States–Mexico–Canada Agreement.
Selain itu, Trump berencana bertemu Presiden China, Xi Jinping, pada akhir Maret. Pertemuan ini menjadi penting karena hubungan ekonomi kedua negara masih tegang.
Trump bahkan membuka kemungkinan menunda pertemuan tersebut jika situasi perdagangan belum membaik.
Ketegangan Geopolitik Ikut Mempengaruhi
Trump mendorong negara lain, termasuk China, untuk ikut menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, ia mengancam akan menghentikan hubungan dagang dengan Spanyol jika negara tersebut menolak dukungan militer terhadap Iran.
Langkah ini menunjukkan bahwa kebijakan perdagangan AS berkaitan erat dengan kepentingan geopolitik.
Dampak bagi Ekonomi Globa
Sejumlah analis menilai kebijakan tarif baru ini dapat memicu ketegangan perdagangan global. Negara mitra dagang kemungkinan akan memberikan respons balasan.
Kondisi ini berpotensi mempengaruhi stabilitas pasar internasional. Namun, pemerintah AS tetap meyakini kebijakan ini dapat melindungi industri dalam negeri.
Dalam beberapa bulan ke depan, arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat akan terus menjadi perhatian pelaku ekonomi global.


Saat ini belum ada komentar